PT Hutama Karya (Persero) baru-baru ini meresmikan Hunian Sementara (Huntara) Simpang Ulim dengan tujuan membantu pemulihan masyarakat yang terdampak banjir di Kabupaten Aceh Timur. Acara peresmian pada Jumat, 24 Januari, dihadiri oleh sejumlah pejabat, termasuk Bupati Aceh Timur, yang menyerahkan kunci hunian kepada para warga yang sudah lama menanti tempat tinggal yang layak.
Pembangunan hunian ini bukan hanya tentang menjawab kebutuhan fisik, tetapi juga tentang memberikan harapan dan memulai kembali kehidupan. Dengan hadirnya Huntara, diharapkan masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan lebih tenang dan nyaman, menjadikan tempat ini sebagai pijakan awal menuju pemulihan yang lebih baik.
Hunian ini terdiri dari 45 unit yang tersebar di dua lokasi berbeda, memberikan fasilitas lengkap untuk mendukung kehidupan sehari-hari. Dengan unit-unit tersebut, para kepala keluarga yang terdampak banjir dapat memiliki tempat tinggal yang tidak hanya aman, tetapi juga nyaman dan memenuhi kebutuhan dasar mereka.
Deskripsi Pembangunan dan Fasilitas Huntara Simpang Ulim
Huntara Simpang Ulim dibangun dengan mengutamakan kebutuhan dasar serta kenyamanan bagi penghuninya. Setiap unit dilengkapi dengan toilet terpisah, dapur umum, dan ruang komunal yang dapat digunakan oleh seluruh penghuni. Tak hanya itu, ada juga area untuk mencuci serta ruang bermain bagi anak-anak, yang penting untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan mereka.
Lokasi pembangunan Huntara ini ditentukan berdasarkan kedekatannya dengan fasilitas umum. Hal ini memastikan warga tetap dapat mengakses layanan kesehatan, pendidikan, dan aktivitas sosial lainnya tanpa harus berpindah jauh dari tempat tinggal mereka.
Ketika membangun, PT Hutama Karya menghadapi tantangan terutama di akeses jalan yang terputus karena bencana. Namun, dengan melibatkan tenaga kerja lokal yang mencapai 172 orang, proses pembangunan dapat dilaksanakan dengan baik dan sesuai dengan standar kualitas yang diharapkan.
Respons Warga Terhadap Kehadiran Hunian Sementara
Warga yang menerima manfaat dari Huntara, seperti Asma dan Fitriani, mengungkapkan rasa syukur mereka atas kehadiran hunian tersebut. Mengalihkan dari kondisi hidup yang tidak layak di tenda pengungsian, mereka merasa lebih tenang dan nyaman dengan hunian yang dibangun dengan kualitas yang baik.
Kondisi di dalam Huntara tentunya jauh lebih baik dibandingkan dengan tempat tinggal sementara sebelumnya. Hal ini memberikan kesempatan bagi mereka untuk mulai membangun kembali kehidupan mereka setelah trauma yang diakibatkan oleh banjir.
Kami sudah menjalankan aktivitas sehari-hari seperti biasa, dengan lebih fokus dan nyaman, sehingga bisa lebih produktif dan berkontribusi kepada komunitas,” tambah mereka, menunjukkan harapan yang lebih optimis setelah mendapatkan hunian yang lebih layak.
Kerja Sama Antara Berbagai Pihak dalam Program Pemulihan
Pembangunan Huntara ini merupakan hasil kerja sama yang solid antara sejumlah pihak. Di bawah koordinasi Badan Pengelola Investasi, beberapa perusahaan BUMN juga terlibat dalam mendorong program ini. Dari penyediaan listrik oleh PLN hingga dukungan komunikasi dari PT Telkom, semua elemen pemangku kepentingan berperan dalam memastikan kesuksesan proyek ini.
Pemerintah daerah juga berkontribusi dengan memberikan dukungan administratif dan koordinasi yang diperlukan, sehingga proyek ini dapat berjalan lancar. Kerja sama seperti ini menunjukkan pentingnya sinergi dalam penanganan bencana dan pemulihan masyarakat.
Bupati Aceh Timur, dalam sambutannya, mengingatkan para penerima manfaat untuk menjaga dan merawat hunian mereka. Ini penting agar hunian dapat berfungsi dengan baik selama masa transisi ke kehidupan yang lebih permanen di masa depan.
Rencana Masa Depan dan Pengelolaan Hunian Sementara
Pembangunan Huntara tidak hanya dimaksudkan sebagai solusi sementara, tetapi juga sebagai langkah transisi menuju hunian yang lebih permanen. Dalam keterangan yang diberikan, perwakilan dari perusahaan menjelaskan bahwa pengembangan rencana hunian permanen akan dilakukan seiring waktu, memberikan keleluasaan pada para pemangku kepentingan untuk menyusun perencanaan dengan baik.
Penerapan standar mutu konstruksi yang tinggi, pengawasan teknis, serta penerapan prinsip keselamatan dan kesehatan kerja menjadi fokus utama dalam proyek ini. Dengan begitu, hunian yang dibangun tidak hanya nyaman tetapi juga aman untuk ditinggali dalam jangka waktu yang lebih panjang.
Proses pengembangan ini direncanakan akan melibatkan masukan dari masyarakat agar kebutuhan dan harapan mereka dapat diakomodasi dalam perencanaan kedepannya. Dengan cara ini, pembangunan dapat lebih inklusif dan berkelanjutan, menciptakan dampak positif bagi masyarakat secara keseluruhan.